Jumat, 28 November 2008

Kembalinya sang Pertapa


Satu tahun 3 bulan. Itulah masa 'pertapaan' Adenium arabicum batang tunggal koleksi H Rosyidi. April 2007 arabicum batang hitam itu dinobatkan sebagai grand champion Walikota Cup Kota Tangerang 2007. Pascapentasbihan ia menghilang bagai ditelan bumi. Baru pada penghujung Agustus 2008 sang legenda turun gunung. Ia langsung merebut gelar best in show di Piala Kemerdekaan I, Yogyakarta. Seratus pesaingnya tak berkutik di hadapannya.

Arabicum setinggi 2 m itu memang perkasa. Batang dan kaki terlihat kokoh meski sosoknya jangkung. 'Tak ada akar yang saling menyilang. Cabang dan perantingan juga sudah terarah,' kata Yusniar Basuki, juri asal Yogyakarta. Tiga juri-Supriyanto, Yusniar Basuki, dan Wahyu-pun sepakat mengganjar dengan nilai 65,7. Koleksi H Rosyidi asal Klaten itu mengalahkan 2 pesaing terberatnya: jawara RCN milik Andy Budi Pratama dari Klaten (62,83) dan kampiun total performance milik Felik asal Kediri (61,83).

Pertarungan yang tak kalah seru terjadi di kelas utama nonbunga. Tiga besar di kelas itu merupakan adenium yang memang dipersiapkan secara matang oleh para pemiliknya. 'Ketiganya mempunyai perakaran yang baik. Percabangan pun sudah diselaraskan,' ujar Supriyanto, juri asal Ponorogo. Akhirnya, tiga juri menetapkan adenium milik Andy Budi Pratama asal Klaten sebagai yang terbaik. Ia menumbangkan adenium koleksi Herman dan saudara selubuknya-juga milik Andy-dari Klaten.

Meriah

Kontes yang digelar di bekas Hotel Ambarukmo itu meriah. Sebanyak 101 adenium dari Yogyakarta, Jawa Tengah, dan Jawa Timur beradu kekuatan. 'Ini kontes pertama kali di Yogyakarta yang mampu menjaring peserta terbanyak,' kata Willy Purnawanto SE, ketua panitia kontes. Maklum, meski Yogyakarta dikenal sebagai wilayah pertama yang memicu tren adenium berkarakter, peserta kontes sepanjang 2005-2007 hanya puluhan peserta. Kontes itu kian istimewa karena diikuti peserta-peserta berkualitas.

Hajatan yang digelar oleh komunitas sansevieria dan adenium di Yogyakarta itu juga menampilkan kontes sansevieria. Sebanyak 80 peserta bersaing ketat di 8 kategori. Sebut saja kelas daun pipih, daun bulat, mini, dan unik. Pesertanya berasal dari Yogyakarta, Jawa Tengah, dan Jawa Timur. Di kontes itu Sansevieria patens milik Yusack dari Solo dinobatkan sebagai best in show dengan total nilai 72,83. Ia mengalahkan 2 pesaing terberatnya: S. aethiopica koleksi nurseri Watu Putih, juara di kelas daun pipih majemuk dan S. suffruticosa milik Soejatno Soebekti, kampiun di kelas daun bulat tunggal.

Semarang

Ingar-bingar perang sansevieria pun berlangsung di Semarang, Jawa Tengah. Di kontes bertajuk Flora Fauna Fair III 2008 itu bertarung 47 lidah mertua. Pada penghujung Agustus itu nama Soejatno Soebekti asal Temanggung berkibar karena menang di 2 kelas: daun bulat dan pipih. 'Kesan pertama keduanya memang paling menarik,' kata Ir Irwan Riyanto, koordinator kontes yang juga menjabat ketua Aspeni Jawa Tengah itu.

Ajang yang digagas oleh Perkumpulan Flora dan Fauna Semarang itu juga menggelar kontes puring dan anthurium. Tercatat 60 anthurium dan 32 puring menyemarakkan kontes tersebut. Kolektor asal Temanggung, Ny Sasra Handaka, berkibar di kontes anthurium. Di kelas jenmanii ia memborong posisi 4 besar. Ia pun merebut posisi 2-5 di kelas nonjenmanii. Posisi pertama diraih oleh Lux's Flora.

Secantik Delapan Dewa



Hidupnya menyendiri di pinggir tebing. Akarnya mencengkeram pada bebatuan. Kaudeks berdiameter sekitar 6 cm menyembul di antara celah batu. Begitulah hidup Euphorbia waringiae di habitatnya. Namun, di tangan Boen Soediono anggota famili Euphorbiaceae itu tumbuh di dalam pot. Kehadirannya memperindah sudut ruang di kediamannya di Jakarta Pusat.

Euphorbia asal Madagaskar itu men-jadi pilihan Boen lantaran bersosok unik. Kerabat jarak pagar itu memiliki bonggol bulat seukuran telur. Dari ujung bonggol tumbuh batang bercabang dua. Salah satu cabang hanya berukuran sekitar 6 cm dan diselimuti daun lanset hijau keunguan. Sedangkan cabang yang lain panjangnya sekitar 40 cm dan memiliki 2 anak cabang.

Masing-masing anak cabang itu tengah memunculkan bunga berwarna kuning dengan semburat salem. Bentuknya mirip Euphorbia milii yang populer di tanahair. Hanya saja berukuran lebih kecil yakni berdiameter 5-7 mm. Agar lebih cantik, tanaman itu ditanam pada pot keramik setinggi 20 cm. Cabang yang panjang dibiarkan menjuntai dan dito-pang batu fosil seukuran kepalan tangan sehingga membentuk gaya cascade.

Dari Thailand

Dengan penampilan seperti itu, Euphorbia waringiae ibarat naik kelas. Tanaman liar yang hidup di antara semak-semak itu kini berbalut pot nan indah. Saat dipajang pada pameran Trubus Agro Expo di Parkir Timur Senayan, Jakarta, tanaman itu banyak mengundang pujian para pengunjung. Ia memang pantas mengikuti jejak kerabatnya, seperti poinsetia dan Euphorbia milii yang lebih dulu dikenal sebagai tanaman hias.

Mengoleksi E. waringiae kian istimewa karena tergolong tanaman langka. Meski hidup jauh dari jangkauan manusia, keberadaannya di alam terancam punah. Maklum, ia tumbuh di daerah kritis dan minim hara. Keluarga jarak-jarakan itu hidup di bukit-bukit batu di bagian barat daya Madagaskar.

Untuk memenuhi kebutuhan hara, ia hanya bersandar pada humus yang berasal dari daun semak yang berguguran. Seandainya humus itu makin terkikis, maka terancam pula hidupnya. Dengan mengoleksi tanaman itu berarti memperpanjang kehidupan mereka. Apalagi bila kerabat singkong itu dibudidayakan dan diperbanyak baik secara vegetatif maupun generatif.

Tak hanya Euphorbia waringiae yang dikoleksi Boen. Euphorbia endemik Madagaskar lainnya juga ia datangkan via Thailand. Salah satunya Euphorbia capsaintemariensis. Penampilannya tak kalah unik. Dari ujung batang yang hanya setinggi 3 cm, tumbuh sekitar 20 cabang.

Di ujung cabang tumbuh daun tebal berukuran 2 cm yang bagian tepinya bergelombang dan menggulung ke dalam. Bunganya kuning dan mungil seukuran bunga Euphorbia waringiae. Hanya saja semburatnya hijau. E. capsaintemariensis juga hidup di daerah berbatu.

13 tahun

E. capsaintemariensis sejatinya varian dari Euphorbia decaryi. Jenis inilah yang dikoleksi Hanodo Buntoro di Pati, Jawa Tengah, sejak 13 tahun silam. Pantas bila dilihat dari bentuk daun keduanya hampir mirip. Bedanya, daun E. decaryi lebih tebal dan berwarna marun. Meski sedang tidak berbunga, sosok kerabat sambang darah itu menawan karena bertajuk rimbun. Saking rimbunnya batang dan cabang nyaris tak terlihat diselimuti daun.

'Tanaman itu pertumbuhannya lamban, hanya beberapa milimeter setiap tahunnya. Ia lebih suka tumbuh membentuk cabang baru,' ujar Buntoro. Oleh sebab itu, koleksi pemilik nurseri Soetomo Flora itu hanya setinggi 15 cm meski berumur 13 tahun. Namun, ketika daun disingkap tampak puluhan cabang yang sangat rapat.

Euphorbia endemik Madagaskar yang juga didatangkan Boen adalah Euphorbia suzannae-marnieriae. Daun tanaman yang hidup di Provinsi Toliara, Madagaskar, itu juga mirip capsaintemariensis dan decaryi. Hanya saja ukuran daun lebih panjang dan lebar. Daunnya juga lebih tipis. Namun, ia memiliki kaudeks seperti E. waringiae yang berukuran 5-6 cm.

Ada lagi Euphorbia neohumbertii yang penampilannya berbeda dengan ketiga jenis sebelumnya. Batangnya menyerupai kaktus dengan penampang melintang berbentuk segi delapan. Daunnya oval dan bertangkai menyerupai raket tenis. Daun hanya tumbuh di ujung cabang sehingga membentuk tajuk seperti payung. Tanaman terlihat indah bila daun pada setiap cabang tumbuh serempak.

Hibrida

Keelokan jenis spesies menitis pada turunannya. Salah satunya silangan antara Euphorbia labatii dan E. ambovombensis. Bila dilihat dari bentuk daun, hasil silangan itu didominasi karakter E. labatii. Ciri khas utama tanaman itu berdaun tipis dengan tulang daun berwarna hijau muda sehingga menimbulkan corak pada daun. Sedangkan E. ambovombensis memiliki karakter mirip E. decaryi yakni berdaun tebal, berwarna marun, dan keriting di bagian tepi daun. Alhasil, dari persilangan itu muncul karakter labatii, tetapi daunnya lebih tebal. Penampilannya kian cantik karena daun tumbuh roset.

Kecantikan kerabat bunga delapan dewa itu membuat Jeanne Wenas, kolektor asal Surabaya, rela merogoh kocek demi mendapat koleksi saudara dekat bunga delapan dewa itu. Ketertarikan pemilik nurseri Green & Grow itu bukan tanpa alasan. Keindahan kerabat-kerabat euphorbia ternyata dapat dinikmati meski sedang tak semarak bunga.